“Pokoknya Banyu tidak mau dirumah! Kita harus liburan Nda?” Itulah suara Banyu yang sejak kemarin bernada tinggi terhadap Bunyanya, disertai dengan wajah yang kusut.
“Banyu tidak boleh seperti itu ya?”, Bunda berusaha mereda kemarahan Banyu yang semakin berapi-api. “Bunda dan Ayah sedang menabung. Bukannya tahun depan Banyu mau sekolah di SD?”
BRAK! Suara pintu kamar ditutup keras oleh Banyu, selanjutnya terdengar suara pintu terkunci dari dalam.
“Sayang”, suara Bunda lirih terdengar dari luar kamar. “Banyu sayang….” Merasa tahu dengan keadaan Banyu jika sedang marah, dibiarkannya dia mengunci kamar. Nanti juga kalau lapar pasti keluar kamar kok.
Sementara lelaki kecil yang berambut keriting ini menelungkupkan badannya di atas kasur. Dengan bantal menutup kepalanya. “Nggak asik! Bunda nggak asik! Ayah nggak asik! Semua nggak asik!”
Setelah cukup lama di atas kasur, Bayu terbangun juga dengan mata yang memerah. Kemudian dia duduk tepat didepan jendela yang terbuka lebar. Dilihatnya jauh keluar. Tidak ada yang menarik, kecuali hanya pohon-pohon yang tertanam di halaman depan rumah.
Dibalik sebuah pohon mangga, terlihat Pak Jayo sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pak Jayo adalah tukang kebun di rumah Banyu. Dia sengaja didatangkan dari desa untuk mengurusi tanaman-tanaman kesukaan Ayahnya. Karena Ayah Banyu sibuk kerja, sehingga kasihan kalau pohon-pohon dan bunga-bunganya jadi mati.
Diperhatikannya Pak Jayo yang asik dengan tanah dan bunga-bunga, dengan pikiran kemana-mana.
“Aku mau ke Palembang, soalnya sudah lama tidak ketemu Kakek”, Dumai menceritakan rencana liburannya. “Mau foto di jembatan Ampera dan makan empek-empek sepuasnya”
“Sandra diajak Kakak kemping. Kayaknya bakalan dapat pengalaman yang seru deh ntar”
“Kok sama sih?” Putri tiba-tiba memotong pembicaraan Sandra. “Kalau aku di ajak Eyang.”
Masih ingat benar apa yang dikatakan temen-teman Banyu ketika libur sekolah hampir tiba. Semuanya pergi berlibur dengan keluarganya. “Kenapa aku tidak ke Yogya? Bukannya Eyang juga kangen dengan Banyu? Kenapa Ayah tidak libur kerja dan pergi memancing dengan tenda di pinggir sungai? Kenapa sih Banyu hanya dirumah saja?”, batin Banyu berbicara. “Apa yang harus diceritakan nanti di depan kelas, kalau sudah masuk? Paling-paling cerita dikamar sendiri saja. Ah, tidak asik!”
Merasa perutnya keroncongan, akhirnya keluar juga anak keriting ini dari kamarnya. Setelah menyelesaikan makanannya dengan lahap, dia duduk di teras depan rumah, melihat Pak Jayo yang masih sibuk menyiram tanaman.
“Kok bengong Mas?”, Pak Jayo menyapa. “Sini bantu siram tanaman!”
Awalnya Banyu malas dan diam saja, karena masih terbayang dengan liburannya yang sia-sia. “Kayaknya asik bisa main air”, batinnya.
“Nah gitu dong! Sekarang pegang selang ini, terus arahkan ke tanaman ya? Tapi jangan terlalu lama siraminya?”
“Kenapa Pak?”
“Nanti masuk angin. Coba bayangkan kalau Mas Banyu lama-lama mandi”
“Benar juga”, batin Banyu.
“Siramnya dari atas Mas, daun-daunnya biar dibasahin sekalian”
“Bukannya yang kita sirami itu tanahnya?”, Banyu mulai penasaran.
“Tanah disirami itu untuk makanan akar-akar, yang berada di dalam tanah”, Pak Jayo menjelaskan dengan pelan. “Tapi tidak salah kan kalau daun dan bunganya ikut dibasahi? Coba bayangkan kalau Mas Banyu mandi cuma kakinya saja yang basah. Kasihan rambut dan badannya dong”
“Hehehe”, Banyu tertawa kecil.
Tidak terasa semua tanaman sudah disirami. Kemudian Banyu menghampiri Pak Jayo yang sejak tadi sibuk membuat lubang di tanah.
“Sedang buat apa Pak”
“Nak sekarang coba buat lubang di tanah dengan alat ini!
“Lubangnya untuk apa Pak”, kembali Banyu bertanya sambil mengerjakan perintah Pak Jayo.
“Kita akan menanam jagung. Nak sekarang masukkan biji jagung ini kedalam lubang yang sudah dibuat, kemudian ditutup kembali dengan tanah.”
“Sudah”, kata Banyu setelah asik bermain tanah dengan tangannya. Dipukul-pukulya permukaan tanah dengan ke dua tangannya yang sekarang sudah kotor.
“Basahin dengan air di atas tanahnya”
“Kenapa harus dikasih air Pak”
“Biar jagungnya tidak kehausan”, Pak Jayo bercanda dan disusul dengan tawa Banyu.
Sepertinya kesedihan Banyu terhadap liburannya sudah tertutup dengan permainan tanah dan air. Tentunya biji-biji jagung. Dengan kecandaan Pak Jayo, Banyu menjadi gembira dan tertawa.
“Pak, besok kita berkebun lagi kan?”
“Wah tentu itu. Mas Banyu sekarang punya tanggung jawab untuk membesarkan biji jagung agar nanti bisa tumbuh besar. Kalau sudah panen, kita bakar atau direbus”
Begitulah kesibukan Banyu selama liburan di rumah. Tentunya tidak perlu pergi jauh-jauh dan berkemah atau memancing. Banyu juga sudah memiliki cerita asik yang nanti akan dikatakan di depan kelas. Bahkan dia sudah mempunyai judulnya, liburan dengan Pak Jayo.
Lubuklinggau, 30 November 2011